Meraut Pensil yang Patah
Rp110,000
Judul : Meraut Pensil yang Patah
Penulis : Riki Nugraha
Ukuran : 14 x 21 cm
Penerbit : CV. Firaz Media
BLURB :
“Hidup bagaikan sebuah pensil. Ia harus diraut dengan rasa sakit agar bisa menuliskan arti. Tapi bagaimana jika rautan itu terlalu tajam hingga mematahkan jiwanya?”
Iky adalah seorang sarjana dengan IPK 3.68, sebuah angka yang seharusnya menjadi tiket menuju masa depan gemilang. Namun, di balik angka itu, tersimpan memori tentang sabetan batang singkong, janji yang dikalahkan kemapanan, dan gema diam seorang bapak.
Dari aspal Bandung yang membakar hingga meja judi yang menghancurkan, Iky bertaruh segalanya—termasuk harga dirinya. Menjadi kurir yang membawa beban lebih berat dari sekadar paket, ia terjebak dalam sandiwara besar untuk menutupi lubang di hatinya.
Ini bukan sekadar cerita tentang kejatuhan seorang pecandu judi, melainkan perjalanan seorang anak laki-laki yang mencoba menemukan jalan pulang ke pelukan kejujuran. Karena pada akhirnya, sehebat apa pun sebuah pensil menulis, ia akan habis. Sebelum itu terjadi, Iky memilih untuk menuliskan kebenaran yang paling berdarah.
Description
Judul : Meraut Pensil yang Patah
Penulis : Riki Nugraha
Ukuran : 14 x 21 cm
Penerbit : CV. Firaz Media
BLURB :
“Hidup bagaikan sebuah pensil. Ia harus diraut dengan rasa sakit agar bisa menuliskan arti. Tapi bagaimana jika rautan itu terlalu tajam hingga mematahkan jiwanya?”
Iky adalah seorang sarjana dengan IPK 3.68, sebuah angka yang seharusnya menjadi tiket menuju masa depan gemilang. Namun, di balik angka itu, tersimpan memori tentang sabetan batang singkong, janji yang dikalahkan kemapanan, dan gema diam seorang bapak.
Dari aspal Bandung yang membakar hingga meja judi yang menghancurkan, Iky bertaruh segalanya—termasuk harga dirinya. Menjadi kurir yang membawa beban lebih berat dari sekadar paket, ia terjebak dalam sandiwara besar untuk menutupi lubang di hatinya.
Ini bukan sekadar cerita tentang kejatuhan seorang pecandu judi, melainkan perjalanan seorang anak laki-laki yang mencoba menemukan jalan pulang ke pelukan kejujuran. Karena pada akhirnya, sehebat apa pun sebuah pensil menulis, ia akan habis. Sebelum itu terjadi, Iky memilih untuk menuliskan kebenaran yang paling berdarah.








Reviews
There are no reviews yet.