Kopi Dingin Jam Sebelas Malam
Rp100,000
Judul : Kopi Dingin Jam Sebelas Malam
Penulis : Rahmi Oktariza
Ukuran : 14 x 21 cm
Penerbit : CV. Firaz Media
BLURB :
Apakah kota besar benar-benar sedingin beton gedungnya, atau kita yang terlalu sibuk menghitung untung-rugi hingga lupa caranya memanusiakan rasa?
Bagi Rara, rumah adalah lubang hitam finansial tempat impiannya tentang apartemen 21 meter persegi nyaris direnggut oleh tuntutan keluarga. Bagi Dimas, seorang analis risiko yang kaku, hidup adalah deretan angka spreadsheet yang mendadak runtuh saat ia dipaksa menghidupkan kembali toko kue peninggalan kakaknya tanpa sebuah takaran pasti. Sementara di sudut kedai kopi jam sebelas malam, tiga jiwa asing saling bertukar sunyi dan mengulurkan secangkir cokelat hangat ketika dunia digital menuntut mereka untuk selalu tampak sempurna.
Ini adalah kisah tentang manusia-manusia urban yang kerap terasing di tengah keramaian Jakarta. Tentang seorang kurir paket yang mengetuk pintu-pintu kesepian, bilik kos nomor 7 yang menjadi saksi solidaritas para perantau, hingga kereta komuter terakhir yang membawa seorang pekerja korporat pulang menuju makna kesuksesan yang lebih personal.
Sembilan cerita. Sembilan fragmen kehidupan. Sembilan cara untuk bertahan.
Sebab pada akhirnya, hidup tidak selalu meminta kita berlari tanpa henti. Kadang, ia hanya mengajak kita berhenti sejenak, menurunkan ego, memeluk duka, membuka hati, dan menemukan sedikit rasa nyaman di antara kesederhanaan hari-hari yang kita jalani.
Description
Judul : Kopi Dingin Jam Sebelas Malam
Penulis : Rahmi Oktariza
Ukuran : 14 x 21 cm
Penerbit : CV. Firaz Media
BLURB :
Apakah kota besar benar-benar sedingin beton gedungnya, atau kita yang terlalu sibuk menghitung untung-rugi hingga lupa caranya memanusiakan rasa?
Bagi Rara, rumah adalah lubang hitam finansial tempat impiannya tentang apartemen 21 meter persegi nyaris direnggut oleh tuntutan keluarga. Bagi Dimas, seorang analis risiko yang kaku, hidup adalah deretan angka spreadsheet yang mendadak runtuh saat ia dipaksa menghidupkan kembali toko kue peninggalan kakaknya tanpa sebuah takaran pasti. Sementara di sudut kedai kopi jam sebelas malam, tiga jiwa asing saling bertukar sunyi dan mengulurkan secangkir cokelat hangat ketika dunia digital menuntut mereka untuk selalu tampak sempurna.
Ini adalah kisah tentang manusia-manusia urban yang kerap terasing di tengah keramaian Jakarta. Tentang seorang kurir paket yang mengetuk pintu-pintu kesepian, bilik kos nomor 7 yang menjadi saksi solidaritas para perantau, hingga kereta komuter terakhir yang membawa seorang pekerja korporat pulang menuju makna kesuksesan yang lebih personal.
Sembilan cerita. Sembilan fragmen kehidupan. Sembilan cara untuk bertahan.
Sebab pada akhirnya, hidup tidak selalu meminta kita berlari tanpa henti. Kadang, ia hanya mengajak kita berhenti sejenak, menurunkan ego, memeluk duka, membuka hati, dan menemukan sedikit rasa nyaman di antara kesederhanaan hari-hari yang kita jalani.








Reviews
There are no reviews yet.