Riak Ranah dan Rantau: Sebuah Novel Mosaik Minangkabau Modern
Rp100,000
Judul : Riak Ranah dan Rantau: Sebuah Novel Mosaik Minangkabau Modern
Penulis : Rahmi Oktariza
Ukuran : 14 x 21 cm
Penerbit : CV. Firaz Media
BLURB :
Apakah kota besar benar-benar sedingin beton gedungnya,
atau kita yang terlalu silau oleh angka-angka digital hingga
tega memotong akar tradisi tempat kita tumbuh?
Di sebuah Rumah Gadang di Koto Gadang, Bundo Nurma berdiri kokoh menolak kemanakannya, Arian, yang terdesak menggadaikan sawah pusako tinggi demi melunasi utang pinjol akibat kripto. Penolakan itu menyulut amarah, memicu Arian memacu mobil travelnya secara ugal-ugalan hingga mengalami rem blong di jalur maut Sitinjau Lauik.
Namun di ranah ini, tidak ada riak yang bergerak sendirian.
Ikhtiar dingin dr. Syahrul menyelamatkan nyawa Arian, menyeret sang dokter ke meja operasi darurat untuk menjahit tiang jantung Buya Hamdan. Di saat yang sama, Ihsan terpaksa memadamkan obor surau Buya Hamdan demi membantu ibunya, Uni Elly, mempertahankan los Nasi Kapau legendaris di Bukittinggi dari ancaman penggusuran. Konflik itu membentur idealisme Ridwan, arsitek Gen Z yang dipaksa memalsukan garis siku bangunan oleh keserakahan makelar properti pusat, Fahri, yang bisnis tambang batubara ilegalnya di Sawahlunto justru runtuh menimbum pekerja lokal di bawah pengawasan mandor Zul.
Dari dataran tinggi Agam yang berkabut, pedalaman arang hitam yang pekat, hingga kerasnya bedak semen Pelabuhan Teluk Bayur, sebelas jiwa yang terasing ini bergerak dalam satu garis takdir yang presisi. Mereka mengalir, berbenturan, dan luruh menuju satu muara yang sama: sebuah warung kelontong sederhana di tepi dermaga Muaro Padang tempat Mak Tuo Salma menyerahkan kembalian koin dua ratus rupiah.
Ini adalah kisah tentang benturan ego generasi layar dengan keteguhan adat matrilineal. Sebuah catatan tentang manusia-manusia modern yang harus belajar membaca tanda kehidupan melalui falsafah suci: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Alam Takambang Jadi Guru.
Karena pada akhirnya, jalan pulang ke Rumah Gadang
akan selalu terbuka bagi mereka yang berani tegak lurus
secara ksatria.
Description
Judul : Riak Ranah dan Rantau: Sebuah Novel Mosaik Minangkabau Modern
Penulis : Rahmi Oktariza
Ukuran : 14 x 21 cm
Penerbit : CV. Firaz Media
BLURB :
Apakah kota besar benar-benar sedingin beton gedungnya,
atau kita yang terlalu silau oleh angka-angka digital hingga
tega memotong akar tradisi tempat kita tumbuh?
Di sebuah Rumah Gadang di Koto Gadang, Bundo Nurma berdiri kokoh menolak kemanakannya, Arian, yang terdesak menggadaikan sawah pusako tinggi demi melunasi utang pinjol akibat kripto. Penolakan itu menyulut amarah, memicu Arian memacu mobil travelnya secara ugal-ugalan hingga mengalami rem blong di jalur maut Sitinjau Lauik.
Namun di ranah ini, tidak ada riak yang bergerak sendirian.
Ikhtiar dingin dr. Syahrul menyelamatkan nyawa Arian, menyeret sang dokter ke meja operasi darurat untuk menjahit tiang jantung Buya Hamdan. Di saat yang sama, Ihsan terpaksa memadamkan obor surau Buya Hamdan demi membantu ibunya, Uni Elly, mempertahankan los Nasi Kapau legendaris di Bukittinggi dari ancaman penggusuran. Konflik itu membentur idealisme Ridwan, arsitek Gen Z yang dipaksa memalsukan garis siku bangunan oleh keserakahan makelar properti pusat, Fahri, yang bisnis tambang batubara ilegalnya di Sawahlunto justru runtuh menimbum pekerja lokal di bawah pengawasan mandor Zul.
Dari dataran tinggi Agam yang berkabut, pedalaman arang hitam yang pekat, hingga kerasnya bedak semen Pelabuhan Teluk Bayur, sebelas jiwa yang terasing ini bergerak dalam satu garis takdir yang presisi. Mereka mengalir, berbenturan, dan luruh menuju satu muara yang sama: sebuah warung kelontong sederhana di tepi dermaga Muaro Padang tempat Mak Tuo Salma menyerahkan kembalian koin dua ratus rupiah.
Ini adalah kisah tentang benturan ego generasi layar dengan keteguhan adat matrilineal. Sebuah catatan tentang manusia-manusia modern yang harus belajar membaca tanda kehidupan melalui falsafah suci: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Alam Takambang Jadi Guru.
Karena pada akhirnya, jalan pulang ke Rumah Gadang
akan selalu terbuka bagi mereka yang berani tegak lurus
secara ksatria.









Reviews
There are no reviews yet.