You are currently viewing Impian Anak Pesantren

Impian Anak Pesantren

Sejak aku memutuskan masuk ke pesantren. Banyak orang yang mencibir. “Mau jadi apa masuk pesantren! Mau jadi Kiayi? Mau jadi mubalig? Mau makan apa besok, bagus lagi ke sekolah umum, dapat prestasi, dan tentunya di terima kerja.”

**

Itu yang selalu terngiang  di telingaku, selalu mengganggu setiap tidurku, juga di setiap aktivitas. Terutama dari Pak Dayat, seorang juragan tebu Ayah dari Imah, cewek yang telah mencuri hatiku. Di saat semua kawan-kawanku berlomba masuk ke sekolah yang lebih menjanjikan akan masa depan, aku lebih memilih pesantren sebagai pilihan. Bagi sebagian mereka, pesantren hanya menggambarkan mengaji saja, tak ada pendidikan umum macam di sekolahan atau pun kejuruan. Mereka salah, di pesantren juga di ajarkan ilmu umum, layaknya di sekolah kejuruan, yang kurikulumnya menyesuaikan jaman. Mereka hanya mengira, pesantren identik dengan “gudik atau gatal” yang mencerminkan kejorokan.

“Usah engkau dengarkan mereka tentang keputusanmu masuk ke pesantren Anakku? Apa yang jadi niat juga keinginanmu, maka Ibu selalu mendukungmu.” Sebait kalimat dari Ibu, selalu menguatkanku dalam menempuh semua pendidikan di sini.

“Ini kopinya Nak Udin,” suara Mbok Siram pemilik warung pinggir sungai membuyarkan lamunanku.

“Oh, iya Mbok  matursuwun .”

Secangkir kopi hitam, sambil menikmati segarnya udara pagi hari, di pinggiran sungai Brantas, mengingatkan kembali akan Ibu. Iya, setiap pagi Ibu selalu menyiapkan kopi di kala pulang dari liburan pondok. Tapi kali ini aku tidak pulang, entah kenapa aku kurang tahu. Aku ingin menenangkan batin sementara waktu, melupakan sejenak semua  konflik yang akhir-akhir ini mengganggu. Pasti  Ibu lagi arep-arep  kenapa aku tidak pulang.

Karna setiap liburan pondok, aku selalu sempatkan pulang, di samping melepas kerinduan pada Ibu, juga pada si Imah. Gadis tambatan hatiku.

“Bang, masih lama di pesantrennya?” celetuk Imah pada suatu sore.

“Mungkin sekitar dua tahun lagi dek? Kenapa, sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu?”

Imah hanya diam, tidak menjawab. Sepertinya ada sesuatu yang dia sembunyikan.

“Imah, selepas Bang Udin dari pondok, secepatnya akan melamar Imah.”

“Imah takut Bang, akhir-akhir ini Bapak selalu memojokkan Imah, supaya bersedia di jodohkan sama anak juragan tambak, temannya Bapak yang kaya itu. Bapak selalu membandingkan Bang Udin dengan anak juragan itu. Tapi Imah hanya cinta sama Bang Udin. Bapak selalu menganggap remeh masa depan anak pesantren, tidak lebih bagus mereka yang bergelar S1 atau sejenisnya.”

Ada kegelisahan terpancar dari wajah Imah, aku dapat memakluminya. Imah gadis penurut sama orang tua, dia tentu khawatir jika memang Bapaknya benar-benar melakukan itu.

Sudah lama Ayah Imah tidak menyukaiku, aku sendiri kurang paham apa masalahnya. Tapi itu bukanlah halangan kami menjalin hubungan. Tapi menurut cerita Ibu, Ayah Imah kurang suka dengan mendiang Bapak, karna merasa tersaingi bisnisnya.

“Insyaalloh semua akan baik-baik Imah, yakin saja akan rencana-Nya. Selepas ini Bang Udin minta ijin dulu pada Ibu juga Abah (panggilan untuk beliau, pengasuh pesantren kami) segera melamarmu.”

Dalam hatiku sebenarnya ada firasat kurang enak dengan ucapan Imah barusan. Tapi aku mesti bisa menyembunyikannya dari Imah, aku khawatir dia akan semakin gelisah bila mengetahuinya.

**

Satu minggu lagi liburan pondok, besok aku mau minta ijin Abah perihal niatku mau melamar Imah.

“Surat dari mana Kang?”

“Aku kurang tahu Kang, tadi seorang cewek datang, minta tolong suruh berikan sampean,” Kang Umar segera berlalu begitu surat aku terima.

Sebagai kepala keamanan pondok, Kang Umar yang bertanggung jawab akan setiap aktivitas di sini. Tak terkecuali orang luar yang ada keperluan dengan santri, semua dia mesti mengetahui.

Aku penasaran, siapa cewek itu. Eh, tadi lupa tidak kutanyakan sekalian ciri-cirinya.

Hatiku terguncang, darah seakan terhenti, sesak serasa dada, membaca lembar demi lembar. Aku terduduk, mengambil nafas dalam-dalam, dan melepas dengan pelan. Semua rencana yang sudah kususun berantakan seketika, begitu mengetahui isi surat itu.

“Bang Udin, maafkan aku. Aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan kita. Minggu depan aku harus menikah dengan orang pilihan Bapak. Aku tak berdaya Bang, usaha Bapak merugi, dan aku mesti mau untuk dinikahkan dengan anak teman Bapak, untuk melunasi hutang Bapak. Maafkan aku Bang Udin, moga sampean dapat pengganti yang lebih baik dari aku.” (Imamatul Rohmah)

“Libur berapa hari pondoknya Nak Udin?” tanya Mbok Siram pemilik warung pinggir kali, membuyarkan lamunanku kedua kalinya.

“Dua minggu Mbok. Oh iya, jagung mana lagi yang mesti di panen nanti Mbok?”

Mbok Siram adik Ayahnya Raffi, kawanku di pesantren. Dan kebetulan rumahnya tak jauh dari pondok. Dua hari lalu sebelum libur, Raffi mengajakku memanen kebun jagung punya Bapaknya, lumayan kalau dapat duit bisa buat menyambung hidup selama di pesantren. Alih-alih membantu meringankan beban Ibuku. Bapak Raffi seorang petani, walau sawah ladangnya tidak begitu luas  tapi sudah cukup buat hidup, juga untuk semua biaya Raffi juga Sofi adik Raffi di pesantren.

“Si Mbok kurang tahu Nak Udin, coba di tunggu dulu si Raffi nya, mungkin bentar lagi juga datang.”

Benar saja, belum sepuluh menit, tampak dari kejauhan seorang pemuda, dengan tinggi sedang dan agak gendut berjalan ke arahku.

“Sudah lama menunggu Din.”

“Lumayan Raf, kira dua puluh menit lah. Bagaimana, kita berangkat sekarang?”

“Ayo Din, Bapak sudah menunggu di sana.”

**

Lembayung senja  menampakkan keelokannya, menandakan gelap segera datang. Meninggalkan segala kesibukan akan keduniawian, menanti datangnya malam dalam damai.

Malam semakin larut, suasana hening pedesaan, menambah nuansa sendiri dalam sepi.

“Din, apa rencanamu selepas dari  pondok besok?” tanya Raffi sambil membawa dua cangkir kopi.

Aku belum bisa menjawab, pikiranku memandang kosong pada kegelapan yang terlindung dari pepohonan.

“Kurang tahu Raff, mungkin aku minta ijin Abah supaya boleh tinggal di pesantren, biar bisa bantu-bantu urus ladang punya Abah.” Sembari kuseruput kopi selagi hangat.

“Pasti Abah kasih ijin Din, kamu anaknya kan cerdas juga pandai. Dan pula, bila Abah berhalangan dalam mengajar kamu yang paling sering di suruh menggantikan di antara santri yang lain. Sekalian lamar Ning Salwa Din.” Jawab Raffi sambil tersenyum.

“Ah, tak tahulah  Raff, lagi pula mana pantas aku melamar Ning Salwa?” Ning Salwa keponakan Abah  selain anaknya cantik dan ramah dia juga pintar.

“Tapi aku sering lihat, Ning Salwa selalu memperhatikanmu Din. Lupakan si Imah Din, anggap dia tidak berjodoh. Ada yang mesti kamu perhatikan, Ning Salwa.”

“Itu hanya persepsi pribadimu saja Raff.” Ucapan Raffi barusan ada benarnya, Imah sudah milik orang lain. Mungkin memang tidak berjodoh. Aku mesti membuka hati untuk orang lain ‘Ning Salwa’. Aku sendiri sebetulnya juga merasa kalau Ning Salwa sering memperhatikan.

“Kalau kamu sendiri bagaimana?”

Tanyaku mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

“Bapak menyuruhku melanjutkan ke pesantren di Madura Din.’ Sambil menyeruput kopi yang ia bawa.

“Wah, bagus itu Raff. Kalau aku punya bekal, aku mau di suruh ke sana.”

Pagi yang cerah, mentari tersenyum dengan sinaran. Membebaskan jiwa-jiwa yang terselimut pekatnya malam, seiring datangnya mentari. Menampakkan ceria di setiap insan. Menebarkan senyum menawan pada setiap puspita, yang di selimuti kupu-kupu.

“Udin, kamu siap?” tanya  Abah memastikan, sembari menikmati kopi hitam juga sebatang rokok kretek kesukaan beliau.

Aku membetulkan dudukku menghadap beliau “Udin siap Abah.”

Semalam sepulang Abah dari pengajian di luar, beliau memberikan sebuah surat, yang isinya sebuah beasiswa pendidikan ke luar negeri, yaitu Kairo Mesir. Sebuah kesempatan juga peluang yang banyak di idam-idamkan banyak santri, dan tiada disangka aku terpilih, yang seleksi diadakan Kementrian Agama seminggu yang lalu.

Sekarang saatnya aku akan membuktikan pada semua orang , santri juga mampu berprestasi. Dan tidak hanya milik mereka yang bersekolah umum saja. Kelak, sepulangku dari sana, aku ingin membangun generasi-generasi bangsa yang mumpuni melalui pesantren.

“Bersiaplah, besok lepas tengah hari, engkau mesti sudah di bandara. Semua keperluanmu sudah Abah persiapkan. Dan satu pesan Abah, belajarlah yang sungguh -sungguh. Abah ingin, sepulangmu dari sana, engkau besarkan pesantren ini.”

Tinggalkan Balasan