“Jam malam hanya sampai pukul 21.00 ya.”
Begitu sang yang kami panggil Ummi memberitahukan tata tertib di rumah kedua, setiap pagi sesaat akan berangkat beraktivitas.
***
Soal ketertarikan antar sesama dan lawan jenis sudah menjadi hal biasa. Namun, bagaimana jika caranya kotor bahkan busuk?
Di Jalan Dr.Wibowo No. 99 Asrama Muslimah itu berdiri. Di Asrama Muslimah ini berisikan sekitar 10 muslimah yang keren dan kece badai. Jika dihitung dengan pembimbing total berjumlah sekitar 14 tonggak peradaban. Struktur bangunan dari Asrama Muslimah yang berarsitektur bangunan jaman dulu, dan jika melaluinya maka kita akan berpapasan dengan lorong yang harus kita lewati untuk sampai ke Asrama Muslimah. Sayangnya, lorong tersebut tak terdapat pencahayaan yang memadahi. Hanya 1 pencahayaan di ujung jalan, iya pencahayaan tersebut dari Asrama Muslimah. Bagi sesiapa yang akan melewati, ia selalu memberikan kesan, “Rasanya selalu seperti sedang melewati jembatan shirotul mustaqim untuk menuju ke Surga.”
Jam menunjukkan pukul 22.00, sang Ummi ketar-ketir karena ada satu anak Asrama kok belum pulang-pulang. Ummi sang pembimbing mulai kembali mengabsen satu per satu kamar kami. Ummi yang selalu terjaga di depan pintu gerbang, jika waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 setelah waktu isya. Lebih dari jam 21.00 satu anak saja kok belum pulang-pulang, maka Ummi langsung bergegas.
Malam itu dibuat jantungan untuk semua para penghuni Asrama Muslimah. Bagaimana tidak? Ummi sang pembimbing mengomandokan untuk segera kumpul.
“Kita salah apa?”
“Ada apa ini?”
“Siapa yang mau di sidang karena suatu kesalahan?”
(Para santriwati mulai saling adu argumen)
“Hei, aku belum ganti baju.”
“Aku nanti barisnya di belakang kamu ya?”
“Hei, pinjam jilbab, peniti, bentar-bentar. Tunggu aku.”
(Para santriwati mulai gemeter hebat) Suasana mulai genting tak karuan.
Kenapa harus cemas?
Ya, jika Ummi sang pembimbing sudah mulai berkoar-koar untuk kumpul apalagi di malam hari, berarti itu ada hal penting yang akan disampaikan karena tidak sedang baik-baik saja.
Para santriwati pun mulai berlarian ke ruangan tempat untuk berkumpul.
“Sebelumnya maaf, jika Ummi mengganggu waktu istirahat kalian.”
“Iya Ummi….”
Para santriwati serempak menjawab.
Kedebug !
Para santriwati menengok kompak ke arah suara tersebut.
“Maaf Ummi saya terlat kumpul.”
Salah satu santriwati yang kesandung terkena meja, Aisy namanya.
“Iya gapapa, berdirilah, langsung merapat kebarisan.”
Pinta Ummi.
“Makanya kalo dandan tuh jangan lama-lama, kayak mau ketemu siapa gitu.”
Suara sindiran dari salah satu santriwati. Iya bernama Shofiyah, salah satu santriwati yang dikenal tutur katanya agak gesrek, bahkan sempat akan dipindahkan tempat Asrama Muslimahnya yang jauh lebih tegas. Akan tetapi, Alhamdulillah teman-teman bahkan Ummi sang pembimbing yang di amanahkan untuk di Asrama Muslimah ini selalu mengingatkan.
“Shofiyah….”
Ummi memberikan kode.
“Iya Ummi maaf.”
Shofiyah langsung peka dan tertunduk.
“Baik, Ummi akan melanjutkan pembicaraan yang tadi sempat terpotong. Sebelumnya kepada Aisyah yang baru datang merapat, maaf jika Ummi mengganggu waktu istirahat kamu ya.”
“(Aisyah menganggukkan kepalanya)”
“Jadi begini anak-anak yang sholihah. Ada teman diantara kalian yang belum jua kunjung pulang.”
Ummi mulai memperjelas pembicaraan.
Para santriwati pun saling menengok satu sama lain, “Siapa ya?”
“Apakah ada yang tahu keberadaan Sabrina sekarang? Siapa tahu diantara kalian, terutama yang sekamar sudah diberitahu oleh Sabrina.”
Ummi melanjutkan.
“Maaf Ummi izin menjawab.”
Seorang santriwati menunjukkan jarinya, di mana ia teman sekamar Sabrina. Ia bernama Keyla.
“Iya Keyla sholihah silakan menjawab.”
Ummi mempersilakan.
Tok tok tok….
Belum sesampainya Keyla menjawab, terdengar suara ketukan gerbang.
“Jangan jangan itu Sabrina Umm. Ya kan gaes?”
Sahutan dari santriwati lainnya.
“Iya tuh Umm.”
Para santriwati kompak menjawab.
“Yasudah untuk Keyla sholihah, dipending dulu ya jawabannya. Ummi mau melihat ke depan terlebih dahulu.”
Ummi sang pembimbing melaju ke arah gerbang.
(Suara pintu bergema)
“Assalamu’alaikum….”
“Wa’alaikumussalam. Astaghfirullah Sabrina sholihah, kamu dari mana saja sholihahnya Asrama Muslimah?”
Ummi langsung mempercepat pergerakan kakinya menuju gerbang.
Jarak antara pintu dan gerbang Asrama Muslimah agak lumayan. Kekhawatiran Ummi rasa ingin cepat membuka pun menggebu-gebu, ditambah cuaca saat malam itu gerimis. Guru mana yang tak khawatir? Sudah jam 22.00 lebih seorang akhwat (perempuan) belum pulang-pulang. Ummi pun membukakan pintu gerbangnya. Sang pembimbing yang ketat, akan tetapi lembut, Sabrina yang kehujanan langsung dirangkul oleh sang Ummi dan berteduh dalam satu payung menuju ke dalam Asrama.
“Maaf ya Ummi pulangnya kemaleman. Jadi mengurangi waktu istirahat Ummi.”
Sabrina memulai pembicaraan.
“Iya gapapa Sabrina yang sholihah, dilanjut besok saja pembicaraannya. Besok setelah sholat shubuh berhadapan dengan Ummi ya.”
“Siap Ummi.”
Ummi dan Sabrina pun sampai ke dalam Asrama.
“Alhamdulillah Sabrina akhirnya pulang juga.”
Para santriwati kompak mulai mendekat ke Sabrina.
“Ya sudah para santriwati yang sholihah, sekarang langsung ke kamar masing-masing ya. Selamat beristirahat. Assalamu’alaikum.”
Ummi menutup pembicaraan malam itu.
“Wa’alaikumussalam Ummi.”
Perkumpulan pun bubar jalan. Dan para santriwati mulai melangkahkan kakinya ke pulau kapuk masing-masing.
“Dari mana saja kamu Sabrina? Hayoloh habis ngapain?”
Keyla yang sekamar meledek kepada Sabrina.
Sabrina pun menyahutinya, “Ehehe biasa.”
Bismikaa Allahumma Ahya Wabismika Amuut. Yang artinya: Dengan nama-Mu Ya Allah aku hidup. Dan dengan nama-Mu aku mati.
Suasana Asrama Muslimah pun mulai sunyi. Para santriwati sudah mulai beristirahat.
***
Jam terus berdetak dari angka ke angka. Hingga sekarang menunjukkan pukul 02.00 dini hari, para pembimbing pun membangunkan para santriwati untuk siap-siap sholat tahajud.
Santriwati Asrama Muslimah pun bangun dari tempat tidurnya masing-masing. Hanya ada 1 yang izin tak ikut sholat, dikarenakan udzur (datang bulan) , Fitri nama santriwati tersebut.
“Fit, beneran kamu nggak ikut ke bawah saja? Ya gapapa nggak melaksanakan sholat, bisa duduk dipinggiran luar tempat sholat kalo takut merembes udzurnya (datang bulan)”
Para santriwati memberikan saran untuk ikut saja.
Kenapa demikian?
Kan sudah dewasa?
Fitri beberapa kali diketahui sekarang sering melamun, dan kena gangguan dari mana entah itu asalnya. Iya, Fitri terkadang menjerit saat jam 01.00 dini hari di tempat kamarnya. Teman-teman seperjuangan Asrama Muslimah tak ingin meninggalkan sendirian.
“Ayok Fitri ikut saja. Nanti bicarakan kelanjutannya harus ambil langkah bagaimana lagi bersama Ummi.”
Keyla berbicara pelan mendekat.
Fitri hanya diam saja, tak berbicara sedekitpun.
Sambung dari santriwati lain, “Nanti kalau Fitri berteriak-teriak saat kita melaksanakan sholat tahajud gimana dong?”
Shofiyah memberikan alasan.
“Gapapa, daripada di kamar sendirian. Sedangkan tempat kamar Fitri di atas dan tempat sholat tahajud dibawah bagian depan. Kalo tiba-tiba loncat dari tangga tanpa diketahui kita gimana?”
Sahut santriwati lain.
“Iya juga ya.”
Para santriwati pun melangkahkan kakinya ke tempat sholat tahajud dan Fitri digandeng oleh Keyla langkah demi langkah. Badan Fitri yang sudah lemes tak berdaya, bahkan raut wajah sudah terlihat pucat. Teman-teman hanya bisa mendo’akan yang terbaik untuk kesembuhan Fitri, terlebih makin hari keadaan tubuh berubah dari hari ke hari, dan sekarang seperti mayat hidup.
“Allahuakbar.”
Sholat pun dimulai.
Meski tak sekamar, Keyla salah satu teman terdekat Fitri. Di dalam sholat Keyla agak tak khusyuk, memikirkan keadaan Fitri, berkeliling dipikiran Keyla, “Semoga Fitri baik-baik saja mendengar ayat suci Al-quran.” Namun, Keyla tetap mengusahakan tahan diri agar tetap khusyuk untuk sholat tahajud.
Puji Tuhan sampai akhir sholat tahajud Fitri hanya diam saja, tak berteriak, tak frontal seperti keadaan sebelumnya. Iya, sudah terlihat ada perubahan. Semoga itu perubahan yang baik.
Seperti biasa selesai sholat tahajud para santriwati melanjutkan bertilawah. Fitri masih tertunduk diam. Tak ada reaksi apapun.
“Alhamdulillaah ya Fitri pagi ini kelihatan baik.”
Celetuk (ucap) Shofiyah.
“Alhamdulillah….”
Serempak para santriwati.
Lembaran demi lembaran bacaan ayat suci Al-quran mereka lahap.
“Ya Allah, jika sakitnya Fitri tak bisa disembuhkan, alangkah baiknya Engkau istirahatkan Fitri dalam pangkuan-Mu, InsyaAllah kami ikhlas melepaskan untuk dalam dekapan-Mu.”
Ucap Keyla dalam hati sambil menitihkan air mata.
“Ummi, apakah Ummi akan melakukan Ruqyah kembali?”
Tanya Keyla.
Rasanya Keyla sebagai teman terdekatnya tak kuasa melihat Fitri harus dalam keadaan tak berdaya. Keyla yang selalu rutin menanyakan kepada Ummi sang pembimbing untuk ikhtiar-ikhtiar apa saja yang harus dilalui Fitri agar pulih seperti sedia kala. Sesekali Keyla kesel, “Siapa sih orang jahatnya? Rasanya ingin saya cambik-cambik!”
“Iya, kita akan melakukan Ruqyah Fitri kembali. Bismillaah….”
Pinta Ummi.
Para santriwati memulai duduk melingkar, Keyla teman terdekatnya diamanahkan untuk duduk lebih dekat dengan Fitri. Kini jam dinding menunjukkan angkanya ke jam 03.00 dini hari.
Sang Ummi sebagai pembimbing memberikan aba-aba, “Kalian semua siap anak-anak sholihahnya Asrama Muslimah?”
“Siap Ummi….”
Keadaan sudah mulai dengan tangisan. Apapun hasilnya, mereka serahkan semua kepada Sang Maha Pemilik Hidup dan Mati.
Ummi mulai membacakan ayat-ayat suci Al-quran, pun diiringi dengan para santriwati lainnya. Air mata terus mengalir dari pipi Keyla, selalu mengucapkan dalam hatinya, “Berikan keputusan yang terbaik dari-Mu Yaa Rabb.”
Di tengah-tengah pembacaan ayat suci Al-quran, Fitri mulai menunjukkan reaksinya. Tak ingin Keyla lihat Fitri kelelahan, tak ingin melihat tubuh Fitri terasa sakit semua karena reaksi yang frontal pada Ruqyah sebelumnya. Keyla yang berada didekat Fitri, ia memegang erat tubuh Fitri.
Para santriwati melihat reaksi Fitri pun mulai dengan tangisan yang bersuara. Tak kuasa melihat apa yang terjadi pada teman seperjuangan di dalam Asrama Muslimah, bahkan beberapa santriwati ada yang izin memilih untuk kembali ke kamar saja.
“Fitri kamu anak yang kuat, kamu anak yang sholihah, kamu pun menjadi teman terbaikku, saya ikhlas jika kamu harus dipanggil oleh Allah.”
Keyla mengucapkan lirih dalam telinga Fitri dengan tangisan yang sudah berlumuran.
Fitri pun terbaring dalam pangkuan Keyla, ia mengeluarkan bak seperti cairan dalam mulutnya. Ummi tak salah memilih siapa yang harus dekat dengan Fitri saat proses Ruqyah. Keyla tetap tenang, meski keadaan sudah sangat mencekam, dan sudah sangat nihil jika Fitri akan sembuh apalagi selamat.
Ummi pun mulai menghadapkan diri ke arah kiblat dan Fitri di angkat oleh Keyla beserta santriwati lainnya untuk dibaringkan dihadapan sang Ummi selaku pembimbing Asrama Muslimah dan Ruqyah.
“Ummi akan melakukan menuntun Fitri untuk mengucapkan dua kalimat syahadat kah?”
“Ummi, pasti Fitri kuat kok.”
“Ummi, kami belum siap kehilangan Fitri.”
Ummi….
Ummi….
Dan Ummi….
Semua santriwati mulai bernegosiasi, mereka tak yakin kalo ini akan menjadi kebersamaan yang terakhir.
“Ikhlaskan ya anak-anak sholihah Asrama Muslimah, untuk mempermudah sakaratul maut ananda Fitri.”
Pinta Ummi dengan suara tangisan yang sudah sesunggukkan.
“Bismillah kami ikhlas dan ridho akan keputusan-Mu Sang Maha Pemilik Hidup dan Mati.”
“Tak adil ! Siapa sih orang jahat yang sudah melakukan hal tersebut.”
Seketika Keyla lepas ucapan.
“Istighfar Keyla.”
Para santriwati memeluk Keyla. Mereka paham betul gimana rasanya Keyla sebagai teman terdekat dari Fitri.
“Astaghfirullah. Terimakasih teman-teman.”
Lirih suara Keyla.
Jam menunjukkan pukul 03.45….
Ummi mulai menuntunkan dua kalimat syahadat ditelinga Fitri, “Ashhadu ‘Alla Illah Haillaallah Wa Ashhadu ‘Anna Muhammadarrasulullah.”
Betapa sholihahnya Fitri dan atas kuasa dari Tuhan, Fitri mampu mengucapkan dua kalimat syahadat meskipun terbata-bata. Salah satu tanda mati seseorang dalam husnul khotimah, ia-nya bisa mengucapkan dua kalimat syahadat.
MasyaAllah, teman-teman seperjuangan Asrama Muslimah seketika tersenyum melihat keadaan ini. Lega dalam hati mereka.
“Sungguh Allah menyanyangi Fitri.” Ucap salah satu santriwati yang melihat.
Tepat pukul 04.00 di Asrama Muslimah Fitri menghembuskan napasnya. Ia berpulang kepangkuan Sang Maha Pemilik Hidup dan Mati.
***
Fitri….
Kau orang baik
Kau muslimah yang tangguh
Kau seorang yang pemaaf
Tuhan lebih sayang kamu
Kini kau telah bebas
Surga menantimu
Jawa Tengah
Senin, 20 Juni 2022
***
Assalamu’alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh.
Salam literasi.
Perkenalkan, panggilan yang biasa di sapa dengan Dewi, ini memiliki nama lengkap Dewi Purwati. Asli keturunan Jawa. Menggeluti di bidang kepenulisan sudah sejak duduk dibangku sekolah.
Untuk mengenal lebih lanjut dan memberikan masukan dalam kepenulisan bisa hubungi Whatsapp 0838-1603-0979.
Terimakasih telah membaca. Ditunggu karya selanjutnya.
