“Sudah Kang Ilyas, jangan sakiti lagi anak kecil ini. Dia sudah cukup menderita. Sekarang kita sembunyikan di tempat yang aman, kuatir ketahuan warga.”
**
Malam itu aku dalam perjalanan pulang, menghadiri undangan salah satu warga kampung sebelah punya hajat. Malam belum begitu larut, sepanjang perjalanan binatang malam yang biasa bersahutan nyaris tiada bersuara. Ada sedikit aneh kurasakan, tidak seperti biasanya.
Suara burung hantu memecah keheningan, udara yang makin menggigil menjadikan malam ini lain dari malam sebelumnya.
Langkahku terhenti, ketika melewati rumah cukup besar di pinggiran desa sebelah, sekelebat bayangan hitam mencurigakan, temaram di antara sinar rembulan. Aku berlindung, bersembunyi dibalik pohon. Kulihat bayangan itu mengendap-endap, berjalan ke arah rumah itu. Dia berhenti, dia berjongkok seperti menurunkan sesuatu dari punggungnya, namun kurang begitu jelas karna tertutup rimbunnya pohon. Aku penasaran, perlahan aku mendekatinya, hingga jarak kami terpaut lima meter. Cukup lama aku memperhatikan bayangan itu, sesosok laki-laki dia duduk bersila, sambil sesekali lihat ke kanan ke kiri. Aku mendengar samar-samar membaca sesuatu, seperti sebuah mantra.
Aku makin penasaran, mantra apa yang dia baca. Belum sempat kaki ku melangkah, aku lihat anak kecil datang menghampirinya, sambil menyerahkan sesuatu pada orang itu.
Dan langsung naik atas pinggang.
“Siapa orang itu, siapa pula anak kecil itu? Kenapa malam-malam tidak pakai baju. Apa tidak takut masuk angin apa?” gerutuku dalam hati.
Ketika ia hendak berlalu, aku melompat menghadangnya.
“Siapa kamu, malam-malam berkeliaran mengendap-endap di kampung orang!” hardikku.
Orang itu terkejut sampai melompat dan terjatuh, hingga anak dalam gendongannya terlepas. Tak kalah terkejutnya aku, begitu sinar neon penerangan jalan menyibak gelapnya malam.
“Hadi!” Pekikku.
Orang itu merintih karna kepalanya terbentur pokok kayu.
“Kamu Hadi kan.”
“Kamu siapa?” dengan menahan sakit dia bangkit.
“Aku Heru, teman sekolahmu dulu.”
Tanpa pedulikanku dia lari sambil memberi perintah, “lari Nak.”
Dari sebelah kiri kulihat bocah kecil itu berlari mengikuti perintah itu, hanya mengenakan cawet (semacam celana dalam) dan kepalanya gundul seperti.. Tuyul.
“Iya, benar itu tadi Tuyul, tapi apa benar Hadi piara Tuyul?” Berbagai pertanyaan terus menyelidik dalam pikiranku.
Aku membuka sesuatu yang di berikan makhluk tadi pada Hadi yang tertinggal. Aku terkejut, beberapa lembaran merah seratus ribuan.
**
Kuputuskan pagi ini ke rumah yang semalam menjadi target Hadi. Anganku terus berkelana memikirkan Hadi. Aku tidak habis pikir, kenapa dia sekarang jadi seperti ini, bersekutu dengan bangsa jin yang jelas dilarang dalam agama.
Dulu Hadi orangnya sangat religius juga ramah pada semua orang, suka membantu juga tidak sombong. Tapi mengapa sekarang berubah seratus delapan puluh derajat.
Kuhentikan motorku pada sebuah rumah cukup besar, yang terletak di pinggiran desa. Halaman cukup luas, dihiasi beberapa bunga-bunga, dengan pagar tembok warna putih, kelihatan bersinar dengan warna-warninya kembang. Ada kesan hidup setiap mata menatap.
“Ada yang bisa saya bantu Om?” seorang gadis kecil dengan senyum menyapa.
“Adek kecil, Om ingin bertemu pemilik rumah ini, boleh?”
“Om tunggu di bawah pohon itu, Aisyah panggilkan Umi.” Sambil menunjuk pohon Nangka dia pergi.
O, namanya Aisyah. Aku menuju sebuah tempat yang di tunjukkan Aisyah tadi. Dua kursi, satu meja, di tambah satu kursi cukup panjang.
“Silakan duduk Mas Heru,” seorang perempuan dewasa dengan jilbab kuning keunguan keluar dari pintu samping. Wajah manis, dengan sorot mata tajam.
Aku terkejut, dia kok tahu namaku. Padahal aku belum perkenalkan diri.
“Jangan heran Mas, saya sudah tahu semua.”
“Saya tidak mengerti maksud Mbak?”
“Mas Heru kesini bermaksud ingin tahu rumah siapa yang semalam jadi target makhluk itu kan?”
Aku semakin heran, kok dia juga mengetahui peristiwa semalam.
“Saya mengetahui yang semalam Mas, sedari sore sudah saya siapkan. Saya memang sengaja menjebaknya, dan semalam dia datang. Seorang anak kecil, hanya pakai celana dalam, kepala botak, mengambil uang yang saya simpan di lemari. Begitu saya kejar, saya melihat ada bayangan lain juga mengawasi makhluk itu, yang tak lain itu kamu Mas. Saya mendengar juga menyaksikan, semua percakapan kalian, juga jadi tahu siapa pelaku yang selama ini sering mencuri uang yayasan ini.”
“Kenapa Mbak tidak ikut membantu menangkapnya?”
“Tidak, Mas. Dengan peristiwa semalam, saya yakin orang itu tak berani lagi kemari.”
Tega benar Hadi mengambil uang anak yatim piatu, rutukku dalam hati.
“Ini saya bermaksud mengembalikan uang yang tertinggal yang di ambil dari sini Mbak.” Sambil aku keluarkan bungkusan dalam plastik hitam.
“Tidak perlu Mas, itu sudah bukan uang kami lagi. Tolong berikan lagi pada kawan Mas Heru, kasihan anaknya (sebutan lain dari tuyul), kerja dia semalam mesti hilang karna sudah ketahuan.”
“Baiklah Mbak Yasmin, akan saya berikan apa yang jadi amanah Mbak.” Tertulis pada sebuah pengenal yang ia pakai Yasmin Sumantri.
**
“Tunggu sebentar Mas, Bapak masih di belakang, Mas suruh tunggu, silakan duduk, silakan di minum tehnya.” Ucap perempuan setengah baya, yang kelihatannya pembantu rumah Hadi.
Rumah besar dengan di kelilingi pagar tembok setinggi tiga meter, juga pintu gerbang yang selalu terkunci di lengkapi dengan tombol bel, bila seseorang ingin bertamu. Aku penasaran, apa pekerjaan Hadi hingga ia sesukses ini? Tapi kenapa pula ia mesti piara tuyul? Sekilas aku melihat bocah yang semalam aku pergoki, ia mengintip dengan mengendap-endap dari balik pintu.
Apa pembantunya Hadi tidak melihat kalau sebetulnya, selain mereka ada makhluk astral juga berbaur bersamanya? Belum selesai fantasiku menerka-nerka, kulihat Hadi muncul dari belakang.
“Apa mau kamu kesini Her? Apa kamu mau minta uang? Berapa, katakan. Asal engkau bisa tutup mulut.”
“Hadi, aku kesini bukan meminta-minta. Aku kesini hanya memberikan barangmu semalam yang tertinggal.” Sembari kuberikan bungkusan plastik warna hitam itu.
“Kamu ambillah, lepas itu kamu enyah dari sini!”
“Apa kamu tahu rumah siapa yang engkau target semalam? Itu rumah yayasan yatim piatu Had. Dan aku barusan ke sana, bermaksud mengembalikan duit itu. Tapi pengurus yayasan itu menolak. Dan dia menyuruhku memberikan padamu.”
“Persetan dengan semua! Apakah itu yayasan, apa itu pesantren, apa pula orang kaya, atau orang miskin, aku tak peduli. Kalau dia sudah jadi bidikanku!”
“Ingat Hadi, jalan yang kau tempuh itu salah. Kembalilah ke jalan yang benar. Kembalilah engkau seperti Hadi yang dulu kukenal. Yang sangat religius, ramah pada semua orang juga suka menolong.”
“Itu dulu Her! Sebelum mereka menuduhku yang merampok rumah Mbok Sumi, yang tak pernah aku lakukan. Sebelum mereka mencampakkanku. Aku seperti ini juga karna mereka. Semua orang tak peduli, tak ada yang bersimpati. Juga ketika Ibu sakit butuh pengobatan hingga menemui ajal. Tak satu pun mau peduli. Jangankan membantu membawa ke rumah sakit, sekadar menengok atau menanyakan kabar pun tiada yang mau.”
“Tapi tidak juga engkau mesti menempuh jalan pintas ini Hadi.”
“Aku bisa punya rumah mewah, punya kebun ladang luas, punya mobil, juga punya lapak dari hasil ini! Lalu sekarang engkau menyuruhku untuk tidak melakukannya! Jangan harap! Sekarang pergi, bawa duit dalam plastik yang kau pegang!”
“Oke, bila itu mau kamu. Aku sebagai temanmu sudah mengingatkan. Aku pamit, ini uang hasil kerja anak kamu semalam.” Aku letak bungkusan plastik hitam di meja.
**
“Ada apa Kang Ilyas, kok datang-datang macam di kejar hantu?” dengan nafas terengah-engah kupersilahkan duduk, dan meneguk minuman yang kuberikan. Kang Ilyas masih sepupu dari keluarga Bapak, dan rumahnya ada di seberang desa.
“Nak Heru, beberapa hari ini, warga sering kehilangan uang. Dan warga mencurigai, jangan-jangan yang mengambil itu sebangsa tuyul.
“Lalu?”
“Menurut keterangan warga barusan, dari sesepuh desa. Malam ini makhluk itu akan beroperasi. Maka dari itu, aku mau ajak kamu ikut berjaga.”
Malam begitu hening, tiada pergerakan dari pepohonan. Semua seakan tertidur, bersama air hujan yang berlalu. Dingin semakin menusuk, tanpa suara binatang malam, yang biasa selalu memainkan nyanyian selepas hujan. Semua senyap, semua terdiam. Hanya suara burung kematian, berlalu lalang seakan memberi tanda. Pada jiwa yang terlena.
Kulihat sesuatu menyelinap masuk rumah Kang Ilyas, masih seperti yang kulihat tempo hari. Tapi dia sendiri, tidak bersama tuannya.
“Nak Heru melihat tidak,” bisik Kang Ilyas.
“Iya Kang, sesosok anak kecil gundul masuk lewat belakang. kita sergap, aku ke belakang kamu lewat depan.”
Kami berpisah, aku berjalan mengendap lewat samping.
Terdengar suara gaduh dari depan, seperti perkelahian.
“Sepertinya Kang Ilyas yang berkelahi.” Batinku.
“Mau lari ke mana kamu!” teriak Kang Ilyas, disertai suara rintihan.
Aku yang sembunyi dalam gelap, melihat dengan jelas, sesosok dengan sedikit pincang lari ke arah belakang.
Aku melompat menghadangnya, kupukulkan cemeti yang sedari tadi dalam genggaman, dengan sekali kibas, buk…. membuat makhluk itu seketika terlempar, menjerit meraung kesakitan. Segera ku ambil benang dan ku ikat.
Seperti pesan Kakek “kalau kamu menangkap tuyul jangan engkau ikat selain menggunakan benang, karna benang akan membuat kekuatannya melemah.”
Aku pandangi makhluk itu, kulihat dia menangis menahan rasa sakit. Wajah penuh lebam, mungkin kena pukul Kang Ilyas, kaki juga tangan bengkak membiru.
“Bukankah engkau anaknya Hadi?” tanyaku dengan lirih. Dia hanya mengangguk.
“Baiklah, kamu akan aman bersamaku sampai tuanmu datang menjemputmu.” Dia mengangguk lagi.
Aku bersikap seperti tak terjadi apa-apa, ketika beberapa warga ribut berlarian lewat depanku.
“Kenapa warga jadi gaduh begini Kang?”
“Tadi pas aku berkelahi dengan makhluk itu, ada warga membantu, lalu makhluk itu lari entah ke mana.” Jawab Kang Ilyas.
Aku menarik tangan Kang Ilyas ,menjauh dari orang-orang.
“Sudah, jangan di kejar lagi. Dia sudah ku tangkap, kita pulang tunggu tuannya datang menjemput.”
